Perawtaan Kriptorkismus pada Bayi serta Penyebab dan Gejalanya

Perawatan Kriptorkismus serta Penyebab dan Gejalanya,- www.ujangherbal.com,- Apakah Anda pernah mendengar mengenai penyakit kriptorkismus? Istilah ini memang terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat. Namun, kondisi ini bisa terjadi pada bayi laki-laki, terutama yang lahir secara prematur.

Lalu, apa itu kriptorkismus dan adakah perawatan kriptorkismus yang bisa dilakukan?

Perawatan Kriptorkismus

Gejala Kriptorkismus serta Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kriptorkismus adalah suatu kondisi di mana testis pada bayi laki-laki yang tidak turun ke dalam skrotum saat lahir. Kondisi ini bisa terjadi pada salah satu testis saja dan disebut sebagai unilateral atau terjadi pada kedua testis yang disebut bilateral kriptorkismus.

Umumnya, testis tumbuh dalam rongga perut (abdomen) ketika janin berkembang dalam kandungan. Sekitar 2 bulan menjelang kelahiran atau pada trimester ketiga kehamilan, testis turun secara alami melalui suatu saluran bernama inguinal canal, lalu menempati skrotum.

Bayi dikatakan mengalami kriptorkismus ketika pada saat lahir testis tetap berada di dalam rongga perut atau inguinal canal, dan tidak berada pada skrotum seperti seharusnya.

Kondisi ini tidak akan menimbulkan rasa nyeri, tetapi bisa memberikan risiko gangguan kesehatan, yaitu infertilitas dan risiko kanker testis.

Gejala Kriptorkismus dan Penyebabnya yang Perlu Diketahui

Pada dasarnya kriptorkismus tidak atau jarang menimbulkan gejala apapun. Kondisi ini baru akan diketahui setelah bayi lahir. Walaupun begitu, belum dipastikan faktor apa yang menyebabkan terjadinya kriptorkismus.

Berbagai faktor bisa meningkatkan risiko testis tidak berada di skrotum saat lahir. Faktor tersebut diantaranya adalah :

  • Terpapar pestisida
  • Kelahiran dengan berat badan rendah
  • Konsumsi alkohool dan merokok saat hamil
  • Memiliki riwayat keluarga yang mengidap kriptorkismus
  • Kelahiran prematur, yaitu sebelum kehamilan mencapai 37 minggu
  • Gangguan pada janin yang dapat menghambat pertumbuhan janin dalam kandungan, seperti sindrom Down

Meskipun gejala kriptorkismus tidak timbul, namun kondisi ini bisa didiagnosis melalui perabaan pada testis. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terhadap skrotum dan testis, terutama ketika bayi baru lahri dan ketika ebrusia 6 sampai 8 minggu. Ketika dokter menemukan salah satu atau kedua testis bayi belum turun atau tidak berada di tempat yang seharusnya, maka bisa dicurigai bayi mengalami kriptorkismus.

Biasanya pemeriksaan penunjang jarang dilakukan karena dokter ahli bisa memeriksa adanya testis dalam skrotum dengan perabaan. Namun, jika tidak dapata dirasakan, bisa saja dilakukan pemeriksaan penunjang seperti sinar X, USG, MRI, dan laparoskopi diagnostik untuk melihat apakah testis berada didalam perut atau tidak.

Perawatan Kriptorkismus

Pada sebagian besar kasus kriptorkismus, testis dapat turun menempati posisi yang seharusnya di skrotum dalam waktu 3-6 bulan setelah kelahiran. Sedangkan pada sekitar 1% penderitanya, testis tetap berada dalam abdomen.

Jika testis tidak turun sendiri sampai bayi berusia 6 bulan, maka perawatan kriptorkismus perlu dilakukan. Tindakan ini bisa dilakukan ketika bayi berusia 6 sampai 12 bulan. Tindakan penanganan kriptorkismus ini bertujuan untuk memindahkan testis ke dalam skrotum seperti seharusnya.

Salah satu cara perawatan kriptorkismus yang bisa dilakukan yaitu dengan penyuntikan hormon chrionic gonadotropin (HCG) untuk merangsang proses turunnya testis hingga menempati skrotum. Namun, terapi hormon ini tidak menjadi pilihan utama, karena efektivitasnya yang lebih rendah jika dibandingkan operasi.

Prosedur perawatan kriptorkismus melalui operasi yang bisa dilakukan adalah orkiopeksi, untuk memindahkan testis ke dalam skrotum. Prosedur operasi tentunya memiliki beberapa risiko, seperti diantaranya perdarahan, infeksi, testis kembali naik, jaringan testis mengecil dan mati (atrofi testis) karena terjadi gangguan suplai darah, serta kerusakan pada saluran testis menuju uretra sehingga cairan semen atau mani sulit keluar. Walaupun demikian, sebagian besar tindakan operasi berhasil mengembalikan posisi testis ke skrotum.

Pada kasus dimana bayi tidak memiliki testis sama sekail, perawatan yang bisa dilakukan adalah dengan implantasi testis. Sedangkan pada bayi yang masih memiliki paling tidak satu testis yang sehat, bisa ditangani dengan terapi hormon. Hal ini penting untuk kematangan secara fisik saat pubertas. Semoga bermanfaat.

Tags: