Pengobatan Vulvitis, Penyebab, dan Gejalanya

Pengobatan Vulvitis, Penyebab, dan Gejalanya yang Perlu Diketahui,- Hampir setiap wanita mungkin pernah atau bahkan sering mengalami berbagai gangguan pada area kewanitaan. Keputihan merupakan salah satu contoh masalah kesehatan pada organ intim yang sering dialami timbul dan dialami oleh sebagian besar wanita. Namun, selain keputihan, tidak jarang wanita juga sering mengalami rasa gatal, bengkak, dan gangguan lainnya pada organ intim. Anda harus tetap waspada dan jangan anggap remeh kondisi tersebut, karena bisa saja kondisi yang Anda alami merupakan gejala dari vulvitis. Apakah itu vulvitis ? Pengobatan vulvitis apa sajakah yang bisa dilakukan ?

Pengobatan Vulvitis

Mengenal Lebih Dekat Penyakit Vulvitis dan Cara Pengobatan Vulvitis

Penyakit vulvitis mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Namun, gangguan kesehatan yang satu ini cukup sering dan banyak dialami oleh wanita. Vulvitis merupakan suatu kondisi dimana organ intim luar wanita atau disebut juga vulva mengalami peradangan atau infeksi.

Vulva sendiri yaitu lipatan kulit yang berada di bagian paling luar dari organ intim wanita yang meliputi labia, klitoris, dan vestibulum atau pintu masuk ke vagina. Namun, banyak orang awam yang salah mengartikan bagian ini sebagai vagina. Padahal, vagina merupakan liang atau saluran yang terletak lebih dalam setelah melewati vulva.

Vulva sangat rentan terkena iritasi, hal ini disebabkan karena kondisinya yang lembab. Ada beberapa hal yang dapat memicu iritasi pada vulva, diantaranya seperti infeksi, reaksi alergi, atau luka.

Penyakit vulvitis ini bisa terjadi pada semua wanita. Anak perempuan yang belum mencapai usia pubertas dan wanita pascamenopause memiliki risiko yang lebih tinggi karena jaringan pengering vulva yang lebih tipis akibat tingkat estrogen yang lebih rendah. Lalu, bagaimana cara pengobatannya ? Sebelum mengetahui cara pengobatan vulvitis, alangkah baiknya Anda mengetahui terlebih dahulu penyebab serta gejalanya.

Penyebab Timbulnya Penyakit Vulvitis

Terdapat beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab timbulnya penyakit vulvitis yang perlu diwaspadai, diantaranya adalah :

  • Infeksi. Bakteri, virus, dan jamur tidak hanya menginfeksi vagina, tetapi juga bisa menyerang vulva. Beberapa jenis bakteri, virus, dan jamur yang menjadi penyebab infeksi pada vulva, yaitu diantaranya herpes genital, jamur candida, infeksi HPV, kutu kemaluan, dan skabies.
  • Penyakit kulit. Selain bakteri, virus, dan jamur, beberapa penyakit kulit, seperti psoriasis, lichen planus, dan lichen sclerosus juga bisa memengaruhi kesehatan vulva.
  • Vulvodynia. Seseorang yang mengidap vulvodynia akan mengalami rasa tidak nyaman atau nyeri, seperti tersengat atau terbakar, yang bersifat kronis tanpa adanya penyebab yang jelas pada area vagina dan vulva.
  • Iritasi. Perlu diketahui, terdapat beberapa produk rumah tangga yang bisa menimbulkan iritasi, seperti tisu toilet, sabun mandi, sampo dan kondisioner yang mengandung pafum, deodoran, bedak, semprotan organ intim, spermisida, dan pakaian dalam yang bukan terbuat dari bahan katun. Selain itu, beberapa aktivitas, seperti berenang atau berendam di fasilitas umum, bersepeda, dan menunggang kuda juga berpotensi memicu timbulnya iritasi pada vulva.
  • Estrogen rendah. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hormon estrogen yang rendah bisa memicu timbulnya penyakit vulvitis. Vulvitis yang terjadi ini dikaitkan dengan peradangan vagina karena vagina menjadi kering.
  • Kanker vulva. Kondisi ini memang jarang terjadi dan umumnya menyerang wanita yang berusia di atas 60 tahun. Walaupun begitu, Anda harus tetap mewaspadai kondisi ini. Kanker vulva ditandai dengan timbulnya benjolan atau luka pada vagina.

Mengenali Tanda dan Gejala Penyakit Vulvitis

Vulvitis dapat menimbulkan gejala yang berbeda-beda pada setiap individu. Hal ini tergantung dari penyebab peradangan yang terjadi pada vulva. Namun, secara umum, gejala vulvitis yang biasa timbul meliputi :

  • Keputihan
  • Labia dan vulva mengalami pembengkakan dan berwarna merah
  • Terdapat benjolan yang berisi cairan atau blister pada vulva
  • Timbul rasa gatal pada alat kelamin, terutama pada malam hari
  • Kulit di sekitar vulva pecah-pecah dan terasa seperti terbakar
  • Terdapat area putih yang menebal serta kulit bersisik di vulva

Pada vulvitis yang disebabkan oleh infeksi jamur, terdapat beberapa gejala yang bisa timbul, yaitu gatal berat serta keputihan dan lendir kental yang berwarna putih kekuningan seperti keju. Sementara itu, infeksi yang diakibatkan oleh bakteri dapat menimbulkan gejala seperti organ intim terasa nyeri atau gatal yang disertai dengan keputihan berwarna keabu-abuan dan berbau amis. Berbeda halnya dengan infeksi yang timbul akibat virus seperti herpes, kondisi ini bisa menimbulkan nyeri akibat luka dan timbul lepuhan yang berisi cairan pada organ intim.

Perlu diingat, gejal-gejala yang telah disebutkan diatas bisa saja disebabkan oleh penyakit lain. Maka dari itu, penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika Anda mengalami salah satu gejala tersebut agar Anda bisa segera mendapatkan penanganan atau pengobatan vulvitis yang tepat. Jika timbul rasa gatal, sangat disarankan untuk tidak menggaruk organ intim. Pasalnya, hal ini bisa berisiko menyebabkan iritasi berkembang menjadi infeksi.

Cara Pengobatan Vulvitis yang Perlu Diketahui

Pada dasarnya, pengobatan vulvitis di sesuaikan dengan penyebab atau kondisi yang mendasarinya. Jika vulvitis yang dialami disebabkan oleh infeksi, maka langkah pengobatan tepat yang bisa dilakukan yaitu penggunaan obat antibiotik atau antijamur. Dokter mungkin akan meresepkan salep kortikostiroid untuk digunakan beberapa kali sehari. Salep ini dapat membantu mengurangi rasa gatal dan iritasi pada vulva. Selain kortikostiroid, Anda juga bisa menggunakan krim emolien dan tablet antihistamin untuk mengurangi gatal.

Jika vulvitis disebabkan karena kadar hormon estrogen yang rendah, maka dokter bisa menyarankan penggunakan krim, pessarium, atau tambet vagina yang mengandung hormon estrogen sebagai salah satu solusi pengobatan vulvitis yang tepat. Sedangkan bagi pengidap vulvodynia, mungkin dokter akan menyarankan pengobatan vulvitis berupa krim anestesi lokal dan tindakan operasi.

Perlu diketahui, terdapat sejumlah faktor yang dapat memengaruhi bentuk pengobatan vulvitis, diantaranya seperti riwayat kesehatan, usia, penyebab dan gejala penyakit, serta toleransi terhadap obat-obatan tertentu. Untuk mendapatkan pengobatan yang optimal, sebaiknya Anda konsultasikan dengan dokter mengenai pengobatan yang tepat untuk Anda.

Tags: