Penanganan Perimenopause Untuk Menghindari Menoupase Dini

Penanganan Perimenopause, Gejala Dan Penyebabnya –¬†Kebanyakan wanita mengetahui tentang menopause (masa berakhirnya siklus menstruasi). Tapi jarang sekali wanita mengetahui tentang perimenopause. Padahal perimenopause juga merupakan hal penting untuk diketahui semua wanita, Karena dapat menjadi pencegah menopase dini. Dengan cara yaitu apabila gejala-gejala dari perimenopause sudah dirasakan, maka kita akan mengetahui menopause pun akan cepat terjadi. Oleh karena itu, sebelum terjadi menopause dini kita harus mengetahui perimenoupase sehingga dapat mencegahnya dengan menghindari penyebab-penyebabnya.

Gejala, Penyebab, & Penanganan Perimenopause Untuk Menghindari Menoupase Dini

Penanganan Perimenopause Untuk Menghindari Menoupase Dini

Perimenoupase adalah fase transisi yang menuju menopause yang dimulai beberapa tahun sebelum menopause terjadi. Dalam periode ini, akan terjadi peningkatan dan penurunan hormon esterogen secara tidak teratur. Pada perubahan ini bisa memberikan dampak pada siklus menstruasi , Terkadang menstruasi dapat berlangsung lebih panjang dan terkadang juga dapat berlangsung dengan singkat dari pada biasanya. Bahkan pada wanita yang mengalami masa perimenopause ini juga dapat mengalami gejala-gejala yang menyerupai dengan menopause yaitu hot flashes, vagina menjadi kering, dan gangguan tidur.

Pada umumnya, setiap wanita memulai fase perimenopause dalam usia yang berbeda-beda. Kebanyakan terjadi pada usia 40 tahunan, namun dapat juga terjadi saat usia pertengahan 30 tahun.

Biasanya periode ini berlangsung selama 4 tahun hingga 10 tahun, namun juga dapat terjadi hanya dalam waktu beberapa bulan. Perimenopause ini berakhir dan akan di sebut sebagai menopause dengan ditandai saat seorang wanita tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan.

Gejala Perimenopase

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, mengenali gejala dapat membantu penanganan perimenopause lebih cepat. Adapun gejala yang akan dialami oleh wanita melelui fase perimenopase adalah dengan adanya beberapa perubahan pada tubuh. diantaranya:

  • Gangguan tidur dan hot flashes. yaitu, wanita akan merasakan sensasi hangat secara mendadak pada bagian wajah, leher dan dada. Hot flashes ini dapat mengakibatkan terjadi gangguan tidur.
  • Gangguan fungsi pada kandung kemih dan vagina. akibat dari kadar esterogen yang berkurang, dapat membuat wanita lebih berisiko terkena infeksi pada vagina atau infeksi saluran kemih. Selain itu, lapisan vagina juga akan kehilangan cairan pelumasnya dan keeslastisannya yang dapat menimbulkan rasa nyeri ketika berhubungan seksual.
  • Adanya Perubahan Mood. Dapat mudah tersinggung atau meningkatnya risiko depresi.
  • Siklus menstruasi dapat menjadi tidak teratur. yaitu, jumlah untuk menstruasi dapat sangat banyak atau sedikit. Serta jeda antara periode menstruasi akan semakin cepat atau bahkan akan semakin lama. Anda kemungkinan berada pada masa perimenopause awal, saat Anda mengalami perubahan secara terus- menerus selama periode memsntruasi (umumnya 7 hari). Namun Anda Kemungkinan berada pada masa akhir perimenoupase, saat Anda mengalami jeda menstruasi selama setidaknya 60 hari.
  • Menurunnya fertilitas. Terjadinya frekuensi ovulasi yang tidak menentu, menyebabkan kemampuan wanita untuk hamil juga akan menurun.
  • Perubahan pada fungsi seksual. Saat memasuki fase perimenopause, dorongan serta gairah seksual wanita cenderung akan menurun.
  • Perubahan kadar kolestrol. Saat kadar estrogen menurun, akan menyebabkan kadar kolestrol jahat (LDL) meningkat. Serta selain itu, seiring bertambahnya usia kadar kolestrol baik (HDL) juga kan semakin menurun. Yang dapat berakibat meningkatnya risiko terjadinya penyakit jantung.
  • Pengeroposan tulang. Menurunnya hormon estrogen juga akan mengakibatkan terjadinya pengeroposan tulang. Oleh karena itu, Wanita akan lebih mudah terkena osteoporosis.

Penyebab Perimenoupase Serta Faktor Risikonya

Tentu saja hal ini sangat penting diketahui sebagai langkah awal pada penanganan perimenoupase.

Ketika melewati masa transisi menuju menopause, produksi hormon progesteron dan estrogen pada tubuh wanita akan mengalami naik turun. Kondisi ini adalah penyebab perubahan-perubahan yang dialami wanita pada fase perimenopause.

Berikut merupakan beberapa hal yang dapat membuat wanita mengalami fase perimenopause di usia yang lebih muda, ialah:

  • Merokok. Umumya pada wanita perokok fase perimenopase akan lebih cepat dialami. Bahkan akan lebih cepat juga mengalami menopause 1-2 tahun dari wanita yang tidak merokok.
  • Faktor keturunan. Pada wanita yang memiliki keluarga dengan riwayat menoupase dini, akan berdampak lebih berisiko mengalami kondisi yang sama.
  • Histerektomi. Untuk wanita yang menjalankan Prosedur pengangkatan rahim terutama apabila kedua ovarium (indung telur) ikut diangkat, maka risiko untuk mengalami periode perimenopause dan menopause akan lebih cepat.
  • Pengobatan Kanker. Salah satu penyebab menopause dini adalah dari kemoterapi atau terapi radiasi panggul.

Pengobatan Atau Penanganan Perimenopause

Pada setiap wanita, perimenopause ini merupakan suatu kondisi alami yang tidak dapat dihindari. Karenanya, obat-obatan tidak diperlukan dalam penanganan perimenopause ini. Namun, ada beberapa obat yang dapat digunakan untuk meringankan gejala-gejala yang dialami, diantaranya:

  • Estrogen vaginal. Dapat berfungsi untuk menangani vagina kering, hormon estrogen ini dimasukkan ke dalam vagina menggunakan ring, tablet, atau krim vagina. Selain itu, juga dapat mengurangi rasa nyeri gangguan berkemih yang dialami wanita serta mengurangi rasa nyeri saat melakukan hubungan seksual.
  • Antidepresan. Bagi mereka yang tidak dapat menerima terapi estrogen karena alasan kesehatan atau yang lainnya, Umumnya dapat diresepkan dengan obat ini. Karena beberapa antidepresan dapat mengurangi hot flashes akibat perimenopause.
  • Terapi hormon. Penanganan paling efektif untuk meredakan gejala perimenopause terutama pada hot flashes dan keringat malam tetap dengan Terapi estrogen sistemik.Jenis terapi ini beragam, mulai dari obat tempel di kulit, gel, krim, atau pil.
  • Gabapentin. Selain untuk kejang-kejang, Gabapentin dapat di gunakan pada pasien wanita yang tidak bisa melakukan terapi estrogen. Serta dapat juga mengurangi hot flashes.

Berikut telah kami telah informasikan mengenai bagaimana penanganan perimenopause, lengkap dengan gejala, penyebabnya. Semoga dapat bermanfaat bagi Anda pembaca setia ujang herbal.com

Terima Kasih.

Tags: