Mewaspadai Penyebab dan Gejala Gawat Janin saat Persalinan

Gejala Gawat Janin serta Penyebabnya yang Perlu Diwaspadai,- www.ujangherbal.com – Meskipun merupakan hal yang banyak diidamkan oleh setiap pasangan, namun kehamilan bukanlah sesuatu yang mudah. Ibu harus pintar dalam menjaga kesehatan kandungan. Pasalnya, ada banyak kondisi tertentu yang bisa membahayakan ibu dan janin yang ada dalam kandungan.

Gawat janin merupakan salah satu gangguan gangguan pada kehamilan yang bisa terjadi, baik saat persalinan ataupun sebelum persalinan, tepatnya pada kehamilan trimester ketiga. Ibu harus mewaspadai gangguan kehamilan yang satu ini agar bayi bisa lahir dengan selamat.

Agar bisa lebih waspada, ketahui beberapa penyebab dan gejala gawat janin yang perlu diwaspadai berikut ini !

Gejala Gawat Janin

Mewaspadai Penyebab dan Gejala Gawat Janin

Gawat janin atau disebut juga fetal distress merupakan kondisi janin yang tidak kondusif untuk mmenuhi tuntutan persalinan. Kondisi ini ditandai dengan terjadinya hipoksia janin, yaitu suatu kondisi di mana janin tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup.

Gawat janin merupakan kondisi gawat darurat yang bisa membahayakan nyawa janin sehingga memerlukan penanganan segera. Ada beragam faktor yang bisa menjadi penyebab terjadinya gawat janin, baik dari kondisi janin (maslaah tali pusat, infeksi pada rahim, melewati tanggal persalinan), atau pun dari kondisi itu (mengidap diabetes, tekanan darah tinggi dan preeklampsia, kehamilan pada usia diatas 35 tahun, dan mengalami kehamilan dengan janin kembar atau lebih).

Mengetahui Tanda dan Gejala Gawat Janin

Gejala gawat janin bisa ditunjukkan melalui kondisi tidak normal menjelang persalinan. Beberapa gejala gawat janin tersebut diantaranya :

  • Warna air ketuban berubah coklat atau hijau

Gejala gawat janin pertama yang perlu diperhatikan yaitu berubahnya warna air ketuban. Biasanya warna cairan amniotik dalam air ketuban jernih dengan sedikit bercak merah muda, kuning, atau merah. Namun, jika warna cairan tersebut berubah menjadi hijau atau coklat, maka air ketuban tersebut telah tercampur dengan mekonium (tinja janin).

Warna mekonium hijau menandakan kotoran tersebut baru keluar, sedangkan warna coklat berarti mekonium sudah lama keluar bersama air ketuban. Perubahan warna air ketuban ini bisa menimbulkan risiko sindrom aspirasi mekonium (meconium aspiration syndrome).

  • Gerakan janin berkurang dari biasanya

Berkurangnya gerakan janin juga bisa menjadi salah satu gejala gawat janin. Gerakan janin bisa sedikit berkurang menjelang persalinan karena ruang gerak janin dalam rahim berkurang, namun normalnya pergerakan janin masih tetap bisa dirasakan.

  • Detak jantung bertambah pelan

Normalnya jantung janin berdetak setidaknya 110 sampai 160 kali per menit. Jika detak jantung tersebut kurang dari 110 atau melebihi 160 per menit, maka kondisi ini bisa dianggap tidak normal.

Detak jantung janin dapat melambat sementara ketika rahim berada pada awal kontraksi. Gawat janin bisa dipastikan jika detak jantung terus melambat atau menurun setelah kontraksi.

Selain itu, gejala gawat janin juga bisa dilihat dari ukuran perut. Ukuran perut yang mengecil juga bisa menjadi pertanda. Walaupun begitu, hal ini sebenarnya tergolong sangat subyektif.

Penyebab Gawat Janin

Kondisi gawat janin ini didasari oleh adanya gangguan pada plasenta. Padahal, plasenta bertugas mengantarkan oksigen dan nutrisi untuk janin. Namun, pada kondisi tersebut plasenta tidat bertugas sebagaimana mestinya, atau secara medis disebut insufisiensi plasenta.

Terdapat beberapa faktor yang bisa menyebabkan terjadinya insufisiensi plasenta, seperti diantaranya gangguan pembuluh darah ibu, infeksi di dalam rahim, lilitan tali pusat, dan sebagainya.

Perlu diketahui, berikut ini merupakan kondisi ibu yang rentan mengalami gawat janin, yaitu diantaranya :

  • Obesitas
  • Hamil kembar
  • Hamil lewat waktu
  • Mengidap diabetes melitus
  • Memiliki tekanan darah tinggi atau dan preeklampsia
  • Memiliki riwayat janin matu dalam kandungan
  • Ibu hamil dengan usia 40 tahun ke atas
  • Sering terpapar asap rokok
  • Memiliki riwayat mengandung dengan janin yang mengalami hambatan pertumbuhan
  • Kekurangan air ketuban (oligohidramnion) atau kelebihan air ketuban (polihidramnion)

Selain itu, ada beberapa kondisi yang juga bisa menjadi penyebab gawat janin, yaitu diantaranya :

  • Mengalami sindrom aspirasi mekonium. Sindrom ini bisa menyebabkan iritasi pada paru-paru janin, infeksi, dan menghalangi jalan napas janin.
  • Berat badan janin yang rendah, dimana berat janin kurang dari persentil 10 dari berat badan normal dalam usia kehamilan yang sama.
  • Pasokan oksigen melalui tali pusat berkurang. Salah satu penyebab dari kondisi ini yaitu oligohidramnion.

Untuk penanganannya sendiri, ini disesuaikan dengan penyakit yang menjadi penyebabnya, usia kehamilan, dan berat badan janin. Namun secara umum, jika kondisi gawat janin ini terjadi, dokter sebisa mungkin akan melakukan tindakna pengakhiran kehamilan, yaitu dengan cara operasi caesar atau induksi persalinan. Hal ini sebisa mungkin dilakukan dalam waktu 1 jam setelah kondisi gawat janin terdeteksi.

Jika gawat janin menyebabkan bayi terhirup mekonium, maka dokter harus langsung membersihkan saluran pernapasan bayi segera setelah bayi lahir. Tindakan ini bisa dilakukan dengan alat pengisap atau suction dan memasang alat bantu pernapasan atau ventilator jika diperlukan.

Selaim mengetahui beragam gejala gawat janin, ibu juga harus melakukan pemeriksaan secara rutin dapat membantu mencegah timbulnya penyakit. Dengan mengontrol kondisi kehamilan, maka dokter bisa segera mendeteksi berbagai gangguan pada kehamilan yang terjadi, termasuk gawat janin. Deteksi dini bisa membantu mempercepat proses pengobatannya.

Semoga bermanfaat.


Tags: